3 Sektor Ini Dapat Durian Runtuh Tahun Depan

Jakarta, CNBC Indonesia – Tahun baru 2024 tinggal menghitung hari. Investor kini tengah menyiapkan berbagai strategi untuk mengatur portofolio investasinya tahun depan. Kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang mulai dovish diperkirakan akan mempengaruhi keputusan tersebut.

Diketahui pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia, Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) mengumumkan menahan suku bunga acuan di level 5,25-5,50%. The Fed juga mengisyaratkan untuk memangkas suku bunga sebanyak tiga kali tahun depan.

Hal ini tentunya akan menjadi ruang cuan para investor makin lebar dengan kabar gembira pelonggaran kebijakan suku bunga oleh The Fed. Investor kini perlu mencermati beberapa sektor yang dapat diuntungkan dari pelonggaran kebijakan tersebut.

Keputusan The Fed pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia untuk menahan suku bunga acuannya mendapat respon positif oleh pasar keuangan RI pada perdagangan kemarin Kamis (14/12/2023).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melesat 1,42% di level 7.176,02 pada perdagangan Kamis (14/12/2023).

Kenaikan IHSG didorong delapan sektor yang dimana terdapat tiga sektor dengan kenaikan tertinggi yakni sektor teknologi melesat 5,93%, sektor keuangan naik 2,15% dan properti terapresiasi 2,31%.

Kebijakan The Fed yang lebih dovish membuat suku bunga yang lebih rendah akan menguntungkan ketiga sektor tersebut. Suku bunga lebih rendah dapat menurunkan beban operasional pada perusahaan-perusahaan teknologi, hal ini tentunya akan berdampak pada efisiensi beban perusahaan dan berdampak baik pada laba perusahaan-perusahaan teknologi. 
Kondisi ini akan menguntungkan sektor teknologi karena sektor tersebut menjadi hal menarik saat suku bunga lebih rendah.

Berikut beberapa perusahaan teknologi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Dari sektor keuangan, ketika suku bunga lebih rendah, maka akan menarik para debitur untuk meminjam dana kepada Bank untuk melakukan ekspansi bisnis dengan biaya pinjaman yang lebih murah.

Dengan banyak para pelaku usaha yang melakukan ekspansi bisnis tentunya akan mendorong pertumbuhan kredit perbankan, dimana Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada 2024 akan berada di kisaran 10% hingga 20%.

Selain dapat mendorong perekonomian Indonesia, tentunya perusahaan perbankan dapat meningkatkan Net interest Margin (NIM) mereka dari besarnya kredit yang disalurkan. Semakin besar angka NIM maka mengindikasikan bahwa potensi keuntungan perbankan dari dana yang disalurkan semakin besar.

Berikut beberapa perusahaan perbankan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Begitu pula sektor properti, suku bunga acuan yang lebih rendah, akan membuat daya tarik pembelian properti meningkat karena bunga pinjaman Kredit Pemilikan Rumah (KPR) akan jauh lebih rendah.

Sinyal The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga pada 2024 juga akan menjadi sinyal bagi para investor untuk memprediksi bahwa Bank Indonesia juga akan melakukan pelonggaran acuan suku bunga pada 2024 sejalan dengan target inflasi BI dan pertumbuhan ekonomi. Hal ini dapat mendorong investor properti untuk membeli properti dengan bunga pinjaman KPR yang rendah.

Pasar properti diprediksi kuat pada tahun 2024 sejalan dengan rencana pemangkasan suku bunga.

Berikut beberapa perusahaan properti yang tercata di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi RI di angka 5,2% pada tahun 2024.

Target pertumbuhan ekonomi di atas 5% merupakan salah satu strategi pemerintah dalam mengejar target Indonesia Emas 2045. Indonesia Emas adalah program pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara berpendapatan tinggi alias negara maju di ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-100 pada 2045. https://cerahkanla.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*