Potluck, Budaya Makan Bersama yang Sarat Makna Hadiah

Jakarta – Santer terdengar istilah potluck yang digunakan untuk acara makan bersama pada beberapa perayaan penting. Ternyata tradisi tersebut sarat makna.
Menjelang akhir tahun biasanya banyak undangan makan bersama dari kolega, kerabat, hingga keluarga. Pergi bersama ke restoran yang enak atau memanfaatkan salah satu kediaman maupun lokasi tertentu untuk menjamu satu sama lain sering dilakukan.

Saat makan bersama, populer juga tradisi potluck. Tradisi ini mengharuskan setiap orang membawa makanan dan nantinya dinikmati bersama.

Walaupun tak ada catatan spesifik terkait budaya potluck, detikfood menggali informasinya melalui beberapa sumber. Ternyata ada fakta menarik terkait kehadiran potluck pertama kali hingga tradisinya yang kini mendunia.


Berasal dari istilah Potlatch
Menurut kamus Merriam-Webster istilah potluck sendiri berasal dari kata ‘Potlatch’. Kata tersebut secara khusus memiliki arti memberikan hadiah atau buah tangan baik kepada suatu suku maupun kelompok masyarakat yang dituju.

Makna potlatch juga diperkuat dengan penjelasan pada Britannica yang menyebutkan potlatch sebagai upacara pendistribusian harta atau hadiah untuk menguatkan status sosial seseorang. Budaya ini disebut lebih sering dilakukan pada orang-orang Indian di Amerika Serikat.

Pada awalnya istilah potlatch hanya digunakan bagi petinggi yang ingin menurunkan tahta kepada pewarisnya. Potlatch juga terbiasa dilakukan di depan sebuah persidangan sehingga memberikan gengsi yang tinggi bagi orang yang mendonorkan hartanya kepada orang lain.

Berkembang pada 1500an

Banyak yang mempercayai bahwa populernya tradisi potluck berasal dari sebuah drama yang ditulis oleh Thomas Nashe dengan judul Summer’s Last Will and Testament. Dalam dramanya dikisahkan bagaimana seorang teman baik akan tetap menjadi teman baik walaupun tak punya uang, dan mereka mengadakan potluck untuk membasahi bibirnya dan lainnya.

Kemudian ditemukan catatan pada era 1500an bahwa pria dan wanita di daratan Eropa saat itu menyimpan makanan di rumahnya untuk tamu-tamu yang datang secara tiba-tiba. Makanan sisa tersebut akan disimpan di dalam sebuah gerabah yang hangat yang disebut ‘luck of the pot’ atau wadah keberuntungan.

Sementara ada perdebatan lain tentang potluck yang terjadi di Eropa pada pertengahan abad ke-16. Istilah potluck disebut-sebut telah digunakan untuk menggambarkan pemberian makan tamu di bar atau suatu penginapan tanpa memberitahu tentang menu yang akan disajikan.

Peran potluck pada krisis dunia

Potluck.us menyatakan bahwa pada 1930an ketika Great Depression atau krisis dunia terjadi, tradisi potluck mengambil alih dan menyelamatkan masyarakat. Di Amerika Serikat saat itu masyarakatnya mengalami kelangkaan makanan dan asupan makanannya hanya dijatah secara terbatas.

Suatu hari ada beberapa orang yang berkumpul dan mengadakan acara seadanya untuk menikmati makanan mereka secara bersama-sama. Akhirnya makanan yang didapatkan satu sama lain dikumpulkan dan dikonsumsi bersamaan sehingga semua orang dapat mencicipi menu makanan yang berbeda-beda.

Akhirnya banyak masyarakat yang dapat bertahan melalui krisis besar tersebut dengan menjalankan tradisi potluck bersama orang-orang sekitarnya. Sayangnya potluck ini juga memberikan dampak negatif bagi masyarakat yang memiliki sensitivitas tinggi dan alergi pada makanan karena semua bahan dimasak dan dicampur menjadi satu sehingga alergen tak dapat dipisahkan.

Popularitasnya di era modern
Sejak saat itu potluck tak hanya dilakukan oleh masyarakat di Amerika Serikat saja. Satu per satu negara mulai mengikuti tradisi ini dan memanfaatkan potluck sebagai kegiatan untuk berkumpul bersama dengan berbagi makanan.

Kini potluck lebih identik sebagai momen makan bersama dengan makanan-makanan yang berasal dari sumbangan para pesertanya. Tak ada aturan khusus atau syarat seseorang untuk membawa makanan yang ingin mereka bagikan kepada orang-orang terdekatnya.

Ada beberapa karakteristik makanan yang biasanya disajikan dalam potluck modern. Disajikan dalam wadah yang mudah untuk dihangatkan, sederhana untuk dimasak, dibuat dengan bahan-bahan yang terjangkau, hingga makanan yang tidak akan menimbulkan sampah berserakan. https://cingengkali.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*