Menelusuri ‘Harta Karun’ Rampasan Perang Belanda

Jakarta – Kembalinya ratusan koleksi bersejarah Indonesia dari Belanda menjadi angin segar bagi peradaban Nusantara. Selama 300 tahun Belanda menjajah, ada banyak artefak, benda bersejarah sampai karya seni yang ‘mendekam’ di negeri Kincir Angin.
Satu per satu benda-benda itu ‘pulang kampung’. Dimulai dari keropak Nagarakertagama yang kembali di 1972. Enam tahun berikutnya, Arca Prajnaparamita yang menjadi ikon Museum Nasional Indonesia dan sejumlah pusaka Kerajaan Lombok yang dikembalikan dari Belanda.

Babak baru repatriasi benda bersejarah pun dimulai, yang paling teranyar ketika cicit buyut dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda J C Baud, Erica Baud, yang mengembalikan tongkat Pangeran Diponegoro kepada pemerintah yang diwakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, pada 2015 saat pameran seni Aku Diponegoro.

Akhir Februari 2020, sebilah keris milik Pangeran Diponegoro berhasil diidentifikasi melalui penelitian yang sudah berlangsung sejak 1984. Keris Naga Siluman yang tadinya dibawa oleh Kolonel Cleerens sebagai hadiah buat Raja Willem I ikut ‘pulang kampung’.

Sejak 2021, pembicaraan mengenai repatriasi benda-benda bersejarah Indonesia semakin intens. Indonesia membentuk tim repatriasi Koleksi Asal Indonesia yang dipimpin oleh Menteri Nadiem Makarim bersama Dubes I Gusti Agung Wesaka Puja sebagai ketua dan 7 tim ahli.


Ada 7 rekomendasi benda-benda bersejarah yang (secara bertahap) segera dipulangkan. Dari 4 arca Candi Singasari, koleksi keris Kerajaan Klungkung, tali kekang milik Pangeran Diponegoro hingga Homo Erectus yang fosilnya ada di Leiden dan masih tahap riset.

“Benda-benda itu bisa dipulangkan dengan dua syarat, yakni diambil secara paksa atau adanya ketidakadilan saat prosesnya. Kedua, bisa dikembalikan dengan syarat memiliki nilai sejarah dan manfaat bagi bangsa,” ungkap kurator dan anggota tim repatriasi, Bonnie Triyana di Galeri Nasional Indonesia pada Senin (27/11/2023) sore.

Satu per satu, benda-benda bersejarah itu kini siap dipamerkan ke publik mulai hari ini sampai dua pekan mendatang pada 10 November 2023. Jangan tercengang dengan ‘harta karun’ Nusantara yang nilainya sampai triliunan rupiah tersebut. Mari menelusurinya pelan-pelan dan seksama.

Di bagian depan Gedung A Galeri Nasional Indonesia, detikers akan menemui Arca Prajnaparamita Sang Dewi Kebijaksanaan. Dia dikelilingi oleh 4 Arca Singaasari mulai dari Ganesha, Durga, Mahakala/Mbakala, dan Nandiswara. Arca berlatar Hindu itu menjadi saksi sejarah akan besarnya Nusantara di masa lampau.


Ketika memasuki bagian dalam Gedung A, detikers tidak boleh memotret atau memvideokan apapun dengan alasan keamanan benda bersejarah. Di bagian awal, ada penampakan Keris Naga Siluman, pelana kuda, dan artefak milik Pangeran Diponegoro. Di ruang lainnya, penampakan Perahu Mandar dari koleksi Museum Nusantara di Delft yang kini bangkrut saat krisis Eropa pada 2013 bakal membuatmu terkejut.


Bagian berikutnya, detikers akan menemui koleksi keris Klungkung yang bermula dari Perang Puputan Klungkung pada 28 April 1908 yang dilakukan oleh pasukan KNIL. Bagian yang paling menarik banyaknya harta karun rampasan Lombok yang dipamerkan.


Dalam sejarah, Belanda menjarah sebanyak 230 kg, 7.000 kg perak, perhiasan, dan batu mulia dari Lombok yang terjadi selama kurun waktu 1894. “Salah satu yang menarik adalah cincin batu rubi merah ini, setelah diteliti di Belanda ada crack atau retakan, seperti dihantam benda keras,” kata Bonnie Triyana.


Barang-barang rampasan perang yang dikembalikan ke Indonesia seakan membuka mata kita, akan sejarah di masa lampau.

“Pameran ini untuk mendorong penelitian dan membuka ruang-ruang dialog penelitian lebih lanjut tentang benda-benda bersejarah kita di masa lalu,” pungkas Bonnie.

Sembari menunggu gelombang terakhir repatriasi ke Indonesia yang tiba di akhir 2023, pameran bertajuk Repatriasi: Kembalinya Saksi Bisu Peradaban Nusantara akan membawamu kembali ke jejak masa lampau dan membuka matamu tentang sejarah penting bangsa. https://merujaksore.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*